Kamis, 09 Februari 2012

MANAJEMEN DALAM PENGELOLAAN PESERTA DIDIK


MANAJEMEN DALAM PENGELOLAAN PESERTA DIDIK
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR MASALAH
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik masih menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia.
Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental. Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik yang dinilai lebih penting dari yang lainnya. Oleh karena itu, teori kecerdasan majemuk yang dikembangkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Gardner dinilai dapat memenuhi kecenderungan perkembangan anak didik yang bervariasi.
Penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.
Muhibbin Syah menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yang secara harfiah diartikan memelihara dan memberi latihan. Sedangkan “pendidikan”, merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pelatihan dan pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak dapat lepas dari pengajaran. Kegiatan dari pengajaran ini melibatkan peserta didik sebagai penerima bahan ajar dengan maksud akhir dari semua hal ini sesuai yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 20 tentang sisdiknas tahun 2003; agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam pendidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategis karena kepadanyalah bahan ajar melalui sebuah proses pengajaran diberikan. Sebagai seorang manusia menjadi sebuah aksioma bahwa peserta didik mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mereka unik dengan seluruh potensi dan kapasitas yang ada pada diri mereka dan keunikan ini tidak dapat diseragamkan dengan satu aturan yang sama antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain, para pendidik dan lembaga sekolah harus menghargai perbedaan yang ada pada diri mereka. Keunikan yang terjadi pada peserta didik memang menimbulkan satu permasalahan tersendiri yang harus diketahui dan dipecahkan sehingga pengelolaan murid (peserta didik) dalam satu kerangka kerja yang terpadu mutlak diperhatikan.
Oleh karena itu, manajemen pengelolaan peserta didik harus dipahami oleh orang-orang yang bekerja di lembaga PAUD, baik itu tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan yang kesehariannya berinteraksi dengan anak-anak.

B.     RUANG LINGKUP
1.      Pengertian peserta didik dan pengelolaan peserta didik
2.      Rekrutmen peserta didik
a.       Iklan (open house)
b.      pendaftaran
c.       Syarat-syarat pendaftaran
d.      Seleksi (placement test)
e.       Pengumuman/ daftar ulang
f.       Orientasi calon peserta didik
3.      Penempatan peserta didik
4.      Pembinaan peserta didik
a.       Catatan dan laporan peserta didik
b.      Peranan guru dalam pelayanan peserta didik
c.       Disiplin kelas
d.      Penanggulangan pelanggaran disiplin
e.       Problematika hukuman bagi peserta didik
5.      Solusi dalam pengelolaan peserta didik
C.    TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Agar dapat memahami ilmu pengelolaan peserta didik di lembaga PAUD.
2.      Agar dapat mengelola lembaga PAUD lebih efektif dan efisien.

D.    MANFAAT PEMBAHASAN
Agar dapat mengelola lembaga PAUD dengan lebih memahami kevutuhan peserta didik melalui ilmu pengelolaan peserta didik. Sehingga pengembangan peserta didik dapat tercapai dengan optimal.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN PESERTA DIDIK
            Dalam bahasa Indonesia, makna siswa, murid, pelajar dan peserta didik merupakan sinonim (persamaan), semuanya bermakna anak yang sedang berguru (belajar dan bersekolah), anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari sutu lembaga pendidikan. Peserta didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar setiap saat.
            Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.sedangkan dalam arti sempit anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (Yusrina, 2006).
            Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagaimana yang dikutip oleh Murip Yahya (2008 : 113), dijelaskan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah “anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”.
            Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah individu manusia yang secara sadar berkeinginan untuk mengembangkan potensi dirinya (jasmani dan ruhani) melalui proses kegiatan belajar mengajar yang tersedia pada jenjang atau tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik dalam kegiatan pendidikan merupakan obyek utama (central object), yang kepadanya lah segala yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan dirujukkan.[1]

B.     PENGERTIAN PENGELOLAAN PESERTA DIDIK
Dalam hal ini pengelolaan peserta didik menurut Hendayat Soetopo dan Wasty Soemanto (1982) adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang berkaitan dengan peserta didik, yaitu dari mulai masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah atau suatu lembaga. Dengan demikian pengelolaan peserta didik itu bukanlah dalam bentuk pencatatan/ pengelolaan data peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.

C.    REKRUTMEN PESERTA DIDIK
 Setiap tahun ajaran baru, sekolah disibukkan oleh penerimaan peserta didik yang baru. Sebelum kegiatan ini dimulai, pengelola PAUD terlebih dahulu membentuk panitia  yang terdiri dari :
Ketua                          : Kepala Sekolah
Sekertaris                    : Salah seorang guru
Bendahara                   : Bendahara Sekolah  
Seksi Pendaftaran       : Maksimum 3 (tiga) orang guru
            Adapun tugas dari panitia ini adalah mengadakan pendaftaran calon peserta didik, seleksi, pendaftaran kembali peserta didik yang diterima dan melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan penerimaan calon peserta didik kepada pengelola lembaga didik.
Rekrutmen ini mencakup:
1.      Iklan (open house),  open house biasanya dilakukan untuk memperkenalkan sekolah serta sistem pembelajaran disekolah juga meliputi sarana dan prasarana. Ketika open house berlangsung biasanya sekolah juga menyediakan formulir pendaftaran.
2.      Pendaftaran, ini dilakukan untuk mengisi formulir pendaftaran, dan untuk mengetahui banyaknya orangtua peserta didik yang berminat untuk menyekolahkan anaknya.
3.      Syarat-syarat pendaftaran diperlukan untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi peserta didik, seperti:
a.       Akte kelahiran anak
b.      Formulir data anak yang meliputi, data wali murid , kalau memungkinkan data orang –orang yang tinggal serumah dengan anak baik itu keluarga maupun pengasuh
c.       Riwayat kesehatan anak, imunisasi, riwayat alergi makanan atau obat, dan lain-lain.
4.      Seleksi (placement test), untuk anak usia dini biasanya dilakukan ketika daya tampung kelas terbatas, maka anak dengan usia yang sesuai dengan persyaratan didahulukan.atau seleksi dengan psikotes, sehingga dapat mendeteksi anak yang berkebutuhan khusus ketika sekolah tidak menyediakan kelas untuk anak yang berkebutuhan khusus. 
5.      Pengumuman/ daftar ulang, ini dilakukan untuk mengumumkan hasil placement test serta daftar ulang digunakan untuk kepastian anak-anak yang masuk, biasanya dengan membayar uang sarana dan prasarana sekolah.
6.      Orientasi calon peserta didik, sebelum peserta didik mengikuti pelajaran pada sekolah yang baru diadakan masa orientasi. Adapun tujuan diadakannya orientasi bagi calon peserta didik antara lain adalah :
a.       Memperkenalkan nama-nama tempat di sekolah dan di kelas, kegunaan masing masing tempat, serta pengenalan  peraturan  dan tata tertib sekolah
b.      Mengenalkan peserta didik dengan orang-orang yang berada di lingkungan sekolah berserta tugasnya masing-masing.
c.       Peserta didik dapat mengerti dan mentaati segala peraturan yang berlaku di sekolah.
d.      Peserta didik dapat aktif dalam kegiatan sekolah,
e.       Agar calon peserta didik merasa betah di sekolah, semua warga sekolah yang lama harus bersikap ramah kepada calon peserta didik dan selalu siap membantu apabila diperlukan.

D.    PENEMPATAN PESERTA DIDIK
            Sebelum peserta didik yang telah diterima mengikuti kegiatan belajar, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan dikelompokkan dalam kelompok belajarnya.
Menurut William A. Jeager yang diperhatikan dalam pengelompokkan belajar yaitu:
1.      Fungsi integrasi yaitu dalam pengelompokkan peserta didik menurut umur, jenis kelamin, dan sebagainya.
2.      Fungsi perbedaan, yaitu dalam pengelompokkan peserta didik berdasarkan pada perbedaan individu, misalnya: bakat, kemampuan, minat dan sebagainya.

      Dasar-dasar pengelompokkan peserta didik ada lima macam, yaitu :
1.      Friendship Grouping. Pengelompokkan peserta didik berdasarkan kesukaan di dalam memilih teman diantaranya peserta didik itu sendiri.
2.      Achievement Grouping. Pengelompokkan belajar dalam hal ini adalah campuran antara peserta didik yang berprestasi tinggi dan peserta didik yang berprestasi rendah.
3.      Aptitude Grouping. Pengelompokkan peserta didik berdasarkan atas kemampuan dan bakat yang sesuai dengan apa yang dimiliki oleh peserta didik itu sendiri.
4.      Attention or Interest Grouping. Pengelompokkan peserta didik berdasarkan atas perhatian atau minat yang didasari oleh kesenangan peserta didik itu sendiri.
5.      Intelligence Grouping. Pengelompokkan yang didasarkan atas hasil test intelegensi yang diberikan kepada peserta didik.  

Didalam pendidikan anak usia dini, biasanya penempatan hanya dilakukan       berdasarkan pengelompokkan usia saja.

E.     PEMBINAAN PESERTA DIDIK
            Keberhasilan kemajuan belajar peserta didik serta prestasi yang ditempuh peserta didik, memerlukan data otentik yang dapat dipercaya serta memiliki keabsahan. Karena kemajuan peserta didik merupakan faktor yang sangat vital bagi kebutuhan perkembangan berlangsungnya proses pendidikan.
            Tinggi rendahnya kualitas pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor pengaruh itu adalah penilaian yang dilakukan oleh para guru atau lembaga kependidikan. Berarti pula bahwa penilaian-penilaian menurut keobjektifan dari penilai. Nilai kemajuan peserta didik dilakukan dengan cara mengisi buku laporan pendidikan atau raport. Isi dari raport tersebut adalah laporan perkembangan pada setiap aspek perkembangan anak sesuai dengan petunjuk kurikulum yang sudah diprogramkan bagi tujuan masing-masing lembaga pendidikan. Raport yang berisikan kemajuan peserta didik mempunyai arti yang sangat penting bagi kontrol kemajuan aspek perkembangan peserta didik selama berada di sekolah tersebut, sampai peserta didik itu selesai dan melanjutkan ke sekolah/jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
1.      Pencatatan dan pelaporan kemajuan peserta didik:
a.       Buku Induk
b.      Buku Klepper
c.       Daftar Presensi
d.      Daftar Mutasi
e.       Pencatatan Pribadi Peserta Didik
f.       Daftar Nilai
g.      Legger
h.      Raport (BLP)

2.      Peranan guru dalam pelayanan peserta didik
a.       Kehadiran peserta didik dan masalah-masalahnya
b.      Penerimaan, orientasi, klasifikasi dan petunjuk bgi peserta didik baru tentang kelas dan tata tertib sekolah
c.       Evaluasi dann pelaporan perkembangan peserta didik
d.      Program bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus
e.       Pengendalian disiplin peserta didik
f.       Program bimbingan dan penyuluhan
g.      Program kesehatan dan keamanan
h.      Penyesuaian pribadi, sosial dan emosional peserta didik
i.        Pelayanan diarahkan kepada
1)      Perkembangan kreativitas, bakat dan minat anak;
2)      Keikutsertaan dalam memiliki sekolah sebagai lembaga pendidikan di mata mereka memperoleh pengetahuan, pengalaman, keterampilan secara langsung melalui proses belajar mengajar.
3)      Sikap mandiri serta disiplin diri, percaya diri bahwa dirinya memiliki potensi positif yang dapat dikembangkan.
4)      Pembentukan moral dan etika sebagai peserta didik, dan
5)      Kebutuhan peserta didik dalam menghadapi kesulitan belajar.
j.        Pelayanan yang memperhatikan kebutuhan peserta didik
1)      Penyesuaian bidang-bidang studi yang akan dipelajari;
2)      Penyesuaian situasi sekolah sebagai lembaga yang membina pada proses pendidikan.
3)      Identifikasi terhadap pribadi
4)      Kesulitan dalam mencerna materi pendidikan
5)      Memilih bakat, minat dan kegemaran
6)      Membantu menelaah situasi pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi
7)      Memberikan gambaran situasi pendidikan secara terpadu
8)      Menentukan langkah apa yang harus ditempuh jika menemukan kesulitan belajar
9)      Kesukaran penyesuaian diri dengan lingkungan, dan
10)  Identifikasi hambatan fisik,mental dan emosi.

3.      Disiplin kelas
            Di dalam pembicaraan disiplin, dikenal dua istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi terbentuknya satu sama lain merupakan urutan. Kedua istilah itu adlah disiplin dan ketertiban. Diantara kedua istilah tersebut terleih dahulu terbentuk pengertian ketertiban, baru kemudian pengertian disiplin (Suharsimi, 1993:114). 14
            Ketertiban menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh sesuatu yang datangdari luar. Sedangkan disiplin menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya. Dengan demikian, disiplin kelas (dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:10) adalah keadaan tertib dalam suatu kelas yang di dalamnya tergabung guru dan siswa taat kepada tata tertib yang telah ditetapkan.
            Dengan disiplin para siswa bersedia untuk tunduk dan mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu. Kesediaan semacam ini harus dipelajari dan harus secara sabar diterima dalam rangka memelihara kepentingan bersama atau memelihara kelancaran tugas-tugas sekolah. Satu keuntungan lain dari adanya displin adalah siswa belajar hidup dengan pembiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Menegakkan disiplin tidak bertujuan untuk mengurangi kebebasan dan kemerdekaan siswa akan tetapi sebaliknya ingin memberikan kemerdekaan yang lebih besar kepada siswa dalam batas-batas kemampuannya. Akan tetapi juga kalau kebebasan siswa terlampau dikurangi atau dikekang dengan peraturan maka siswa akan berontak dan mengalami frustasi dan kecemasan. Di sekolah, disiplin banyak digunakan untuk mengontrol tingkah laku siswa yang dikehendaki agar tugas-tugas sekolah dapat berjalan dengan optimal.  

4.      Penanggulangan Pelanggaran Disiplin
             Penanggulangan pelanggaran disiplin kelas perlu dilaksanakan secara penuh kehati-hatian, demokratis dan edukatif. Cara-cara penanggulangan dilaksanakan secara bertahap dengan tetap memperhatikan jenis gangguan yang ada dan siapa pelakunya, apakah dilakukan oleh individu atau kelompok. Langkah tersebut mulai dari tahapan pencegahan sampai pada tahapan penyembuhan, dengan tetap bertumpu penekanan substansinya bukan pada pribadi peserta didik. Disamping itu juga harus tetap menjaga perasaan kecintaan terhadap peserta didik bukan karena rasa benci atau emosional. Namun demikian perlu disadari benar bahwa disiplin di kelas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor lingkungan siswa seperti lingkungan rumah. Oleh karena itu, guru juga perlu menjalin kerja sama dengan orang tua siswa, agar kebiasaan disiplin di sekolah yang hendak dipelihara itu semakin tumbuh subur.
Di bawah ini dikemukakan tiga jenis teknik pembinaan disiplin kelas :
a.       Teknik “Inner Control
Teknik ini sangat disarankan untuk digunakan guru-guru dalam membina disiplin peserta didiknya. Teknik ini menumbuhkan kepekaan/penyadaran akan tata tertib dan pada akhirnya disiplin harus tumbuh dan berkembang dari dalam peserta didik itu sendiri (self dicipline) Dengan kata lain peserta didik diharapkan dapat mengendalikan dirinya sendiri.
b.      Teknik “External control”
Teknik external control yaitu mengendalikan diri dari luar berupa bimbingan dan penyuluhan. Teknik ini dalam menumbuhkan disiplin cenderung melakukan “pengawasan” (yang kadang perlu diperketat dan kalau perlu menjatuhkan hukuman terhadap setiap pelanggaran).
c.       Teknik “Cooperative control”
Dengan teknik ini, pembinaan disiplin kelas dilakukan dengan bekerja sama guru dengan peserta didik dalam mengendalikan situasi kelas ke arah terwujudnya tujuan kelas yang bersangkutan. Dimana guru dan peserta didik saling mengontrol satu sama lain terhadap pelanggaran tata tertib.

 Yang perlu diperhatikan oleh guru dalam proses pembinaan disiplin kelas adalah perbedaan-perbedaan individual peserta didik dalam kesanggupan mengadakan mawas diri (instropeksi) dan pengendalian dirinya (self control). Karena itu teknik cooperative control sangat dianjurkan untuk menetralisir teknik inner control (yang menuntut kedewasaan) dan ekternal control (yang menganggap peserta didik belum dewasa).

5.      Problematika Hukuman Bagi Peserta Didik
            Pemberian hukuman dalam upaya penegakan disiplin memang perlu, kendatipun kadang-kadang hukuman kurang efektif dari ganjaran yang perlu diambil.Karena itu hukuman yang diberikan kepada peserta didik yang melanggar peraturan hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip (Ornstein dan Eggen yang dikutip oleh Maman Rahman :1998) sebagai berikut :
a.       Hukuman diberikan secara hormat dan penuh pertimbangan.
b.      Berikan kejelasan/alasan mengapa hukuman diberikan.
c.       Hindarkan pemberian hukuman pada saat marah atau emosional.
d.       Hukuman hendaknya diberikan pada awal kejadian dari pada akhir kejadian.
e.       Hindari hukuman yang bersifat badaniah/fisik.
f.       Jangan menghukum kelompok/kelas apabila kesalahan dilakukan oleh seseorang.
g.      Jangan memberi tugas tambahan sebgai hukuman.
h.      Yakini bahwa hukuman sesuai dengan kesalahan.
i.        Pelajari tipe hukuman yang diijinkan sekolah.
j.        Jangan menggunakan stndar hukuman ganda.
k.      Jangan mendendam.
l.        Konsisten dengan pemberian hukuman.
m.    Jangan mengancam dengan ketidak mungkinan.
n.      Jangan memberi hukuman berdasar selera.

F.      SOLUSI DALAM PENGELOLAAN PESERTA DIDIK MENURUT KATHY LEE.
            Kathy  Lee didalam bukunya, menawarkan solusi pada pengelolaan peserta didik di lembaga PAUD, dengan berbagai macam pemecahan masalah yang harus dapat dikuasai oleh pengelola, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di sebuah lembaga PAUD. Sehingga proses pengembangan peserta didik bisa tercapai dengan optimal sesuai dengan visi dan misi lembaga.
            Solusi-solusi itu antara lain:
1.      How to help teacher understand tehe difference between a child-centered and teacher-directed curriculum, yaitu bagaimana membantu guru agar mengerti perbedaan diantara siswa yang menjadi pusat belajar atau guru yang menjadi pelaksana kurikulum ( guru sebagai pusat belajar ).
2.      How to learn children names, yaitu bagaimana dapat mengingnat dan mengenal nama anak-anak dengan begitu cepat diawal tahun ajaran, karena hal ini sangat penting untuk kenyamanan anak-anak yang merupakan sebagian faktor keberhasilan pembelajaran.
3.      Why greeting children is important, yaitu menyapa anak dipagi hari sangat penting bagi guru, pengelola, ataupun tenaga kependidikan untuk melakukan hal diatas agar ketika guru tidak masuk atau orangtua yang bertanya, bisa menjawab dengan baik, dan dapat mengenali serta memahami anak dengan baik.
4.      How to handle discipline, yaitu bagaimana menegakkan disiplin bagi anak-anak maupun gurunya disekolah. Bisa dilakukan antara lain dengan mengkomunikasikan masalah disiplin terhadap guru, anak-anak, maupun orangtua peserta didik.
5.      How to handle special-needs children, yaitu bagaimana menangani anak berkebutuhan khusus. Sebaiknya pengelola berhati-hati ketika menerima murid baru, yang terkadang tidak terdeteksi bahwa anak itu mempunyai kelainan. Hal ini bisa dikomunikasikan dengan orangtua agar menindaklanjuti pemeriksaan dan penanganan khusus bagi anaknya. Bila pengelola berniat untuk menerima anak berkebutuhan khusus, maka pengelola harus mempunya program tersendiri untuk anak tersebut dan berkonsultasi dengan ahlinya bila perlu.
6.      How to handle children on special diets, yaitu bagaimana menangani anak yang sedang menjalani diet khusus. Kita perlu ingat bahwa hal ini terjadi karena orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Sebagai pengelola atau tenaga pendidik, kita bertugas untuk menjalankan keinginan orangtua disekolah bagi anaknya salah satunya dengan cara mendisiplinkan anak untuk bisa memakan makanan yang disediakan untuknya.
7.      What to do when children are sick, yaitu bagaimana ketika anak jatuh sakit sebaiknya pengelola mempunyai alat-alat P3K misalnya temperatur yang bisa digunakan untuk mengukur demam anak. Yang lebih penting adalah guru dapat mengenali gejala sakit anak, demam, dan hari ketika anak itu sakit. Sehingga anak dapat terawat dengan baik dan diusahakan tidak menulari temannya.
8.      How to children with allegies, yaitu bagaimana mengatasi anak yang teserang alergi dikelas. Data-data mengenai kesehatan anak, khususnya mengenai alergi harus diingat dengan baik oleh pendidik, pengelola, dan tenaga kependidikan yang terjadi pada masing-masing anak. Mereka juga harus detraining untuk penanganan pertolongan pertama pada reaksi alergi.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
        Pelayanan pada lembaga pendidikan anak usia dini, yang menjadi fokus utama tentunya adalah peserta didik, yang mana kesuksesan lembaga akan terukur dari perkembangan anak yang optimal dari setiap aspek perkembangannya. Oleh karena itu manajemen pengelolaan peserta didik menjadi hal yang sangat penting untuk dikuasai oleh setiap pengelola lembaga PAUD.
        Pengelolaan peserta didik dalam lembaga PAUD meliputi, rekrutmen peserta, pembinaan peserta dan banyak hal yang terkait dengan kebutuhan peserta didik yang harus disediakan oleh pengelola lembaga pendidikan anak usia dini.
        Saat ini banyak fenomena tenaga pendidik atau tenaga kependidikan yang tidak begitu memahami kebutuhan anak (peserta didik), sehingga terjadi banyak kasus yang membuat aspek perkembangan peserta didik terhambat bahkan cenderung merusak. Ini dikarena pengelolaan peserta didik yang tidak mempunyai perencanaan mau keahlian yang memadai.
        Diharapkan dengan banyaknya literature dan pengalaman para ahli dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam menangani anak usia dini, dapat dijadikan bekal oleh setiap pengelola lembaga paud agar dapat mengembangkan seluruh potensi peserta didik yang belajar di tempatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Kathy Lee, 2003, Solution for Early Childhood Directors:real answer to everyday, Drypon House, Bestville,MD

Areefah, 06 meu 2010, Definisi peserta didik, (diunduh dari: http://idb4.wikispaces.com/file/view/rc02-pengaruh+PAI+terhadap+pembentukan+akhlak+siswa.pdf, tanggal unduh 07 April 2011)
         





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar