Kamis, 09 Februari 2012

HUBUNGAN LEMBAGA PAUD DENGAN ORANGTUA DAN MASYARAKAT


HUBUNGAN LEMBAGA PAUD DENGAN ORANGTUA DAN MASYARAKAT
BAB  I
PENDAHULUAN
A.    LATAR MASALAH
        Masih banyak kenyataan yang terjadi di masyarakat adanya orangtua yang masih mempunyai pola pikir bahwa pendidikan itu sepenuhnya tanggungjawab pihak lembaga pendidikan saja. Seringkali orangtua menumpu harapan terlalu tinggi pada lembaga pendidikan, sehingga banyak orangtua yang berani membayar mahal biaya pendidikan anaknya. Di sisi lain, tidak sedikit orangtua yang menuntut lembaga pendidikan harus berbuat seperti yang dikehendaki dan kecewa jika hasil pendidikan di lembaga tersebut tidak sesuai dengan harapannya. Fenomena keliru ini harus segera diluruskan agar tanggungjawab tinggi muncul dalam keluarga sehingga keluarga, khususnya ibu dan ayah juga berperan sebagai pendidik di rumah.
        Dalam Teori ekologi Bronfenbrenner (1979) menjelaskan mengenai perkembangan anak yang dipengaruhi oleh sistem interaksi yang kompleks dengan berbagai tingkatan lingkungan sekitarnya yang mencakup interaksi yang saling berhubungan antara di dalam dan di luar rumah, sekolah dan tetangga(masyarakat) dari kehidupan anak setiap hari dalam kurun waktu yang sangat lama. Interaksi ini menjadi motor atau penggerak perkembangan anak yang  merupakan pusat dari lingkaran, dikelilingi oleh berbagai sistem interaksi yang terdiri dari sistem mikro, sistem meso, sistem exo dan sistem makro.
        Sistem Mikro adalah lingkaran yang paling dekat dengan anak yang meliputi kegiatan dan pola interaksi langsung dari anak dengan lingkungan terdekatnya seperti interaksi dengan orangtua, kakak dan adik kandungnya, sekolah, serta teman sebaya. Hubungan dua arah yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang dan intensif di lingkungan terdekat ini mempunyai dampak terbesar dan mendalam pada perkembangan anak.
        Sistem Meso adalah lingkaran interaksi dan kesesuaian hubungan antar komponen dalam sistem mikro anak yang sangat mempengaruhi perkembangan anak seperti hubungan antara rumah dan sekolah. Orang tua yang tidak terdidik dan tidak menghargai pentingnya pendidikan dan hubungan dengan lembaga kelompok bermain/sekolah, dan yang tidak berbicara dengan bahasa yang digunakan di sekolah anak, akan menyebabkan anak mengalami banyak masalah dalam menerapkan pembiasaan di kelompok bermain dan juga dalam melejitkan potensi kecerdasan jamak anak usia dini. Sebaliknya bila hubungan antar komponen tersebut serasi dan kuat, menyebabkan anak memiliki kemampuan akademik yang baik. Prinsip utama dari sistem meso adalah semakin kuat dan saling mengisi interaksi antar komponen dalam sistem meso, semakin besar pengaruh dan hasilnya pada perkembangan anak.
        Sistem Exo merupakan lingkaran dalam sistem sosial yang lebih besar dan tidak berperan secara langsung terhadap anak, dan anak juga tidak langsung berperan di dalamnya, tetapi interaksi komponen dalam sistem ini seperti dalam bentuk keputusan pada tataran lembaga yang mempunyai hubungan dengan anak, berpengaruh terhadap perkembangan anak. Keputusan-keputusan dari tempat kerja orang tua, komite sekolah, atau lembaga perencanaan adalah contoh dari sistem exo yang dapat mempengaruhi anak baik positif maupun negatif meskipun anak tidak langsung terlibat dalam lembaga-lembaga tersebut. Contoh lain adalah kekejaman orang dewasa yang terjadi di lingkungan tempat tinggal anak dapat berpengaruh pada kesulitan anak untuk tidur.
        Sistem Makro merupakan lingkaran terluar dari lingkungan anak yang terdiri dari nilai-nilai budaya, hukum dan peraturan perundangan, adat kebiasaan, kebijakan sosial dan lain sebagainya. Seluruh komponen dari sistem ini juga berpengaruh terhadap perkembangan.
        Untuk menjawab fenomena ini  banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya yaitu bentuk kegiatan informal yang dilakukan oleh pengelola lembaga PAUD untuk menyelaraskan kegiatan-kegiatan pengasuhan dan pendidikan anak antara di sekolah dan di rumah. Kegiatan ini ditujukan kepada para orangtua, pengasuh, dan anggota keluarga lain yang berperan secara langsung dalam proses perkembangan anak. Kegiatan (pertemuan orangtua) saat ini dirasakan sangat diperlukan mengingat pentingnya pendidikan sedini mungkin.
        Pengetahuan tentang pendidikan anak dapat ditempuh dengan berbagai kegiatan, misalnya kegiatan parenting baik yang dikelola oleh satuan pendidikan maupun pengelolaan secara mandiri. Dukungan pemerintah terhadap kegiatan ini sudah sangat jelas, dengan adanya: (1) Undang-undang No 20/2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional yang juga membahas tentang pendidikan informal. (2) Undang-undang No 23/2002, tentang Perlindungan Anak (3) Konvensi Anak Sedunia. Dengan demikian, kerjasama semua pihak, baik lembaga pendidikan, orang tua (keluarga), masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk pencapaian tujuan pendidikan terutama pada anak usia dini, dapat dioptimalkan.

B.     RUANG LINGKUP
1.      Peran orang tua pada Pendidikan Anak Usia Dini
2.      Peran Masyarakat Pada Pendidikan Anak usia Dini
3.      Hubungan Lembaga PAUD dengan orangtua dan masyarakat
a.       Hubungan Lembaga PAUD dengan orang tua dalam konteks umum
b.      Hubungan Lembaga PAUD dengan masyarakat dalam konteks umum
c.       Hubungan Lembaga PAUD dengan orang tua dalam pandangan Kathy Lee
d.      Hubungan Lembaga PAUD dengan masyarakat dalam pandangan Kathy Lee
e.       Menjalankan kepemimpinan untuk kerjasama yang efektif dengan keluarga (orang tua peserta didik) dalam pandangan Marjory Ebbeck.


C.    TUJUAN
1.      Tujuan pembahasan ini adalah untuk mengkaji hubungan sebuah lembaga PAUD dengan orangtua dan masyarakat
2.      Memahami hubungan  antara lembaga PAUD dengan orangtua dan masyarakat
3.      Memahami tugas-tugas sebagai pengelola Lembaga PAUD dalam membina hubungan dengan orang tua murid dan masyarakat luas.

D.    MANFAAT
1.      Manfaat bagi penulis adalah dapat memahami hubungan dan tugas-tugas pengelola sebuah Lembaga PAUD terhadap orang tua wali murid serta masyarakat sekitarnya.
2.      Agar tulisan ini dapat dikembangkan oleh pembaca sehingga pemahaman mengenai hubungan lembaga PAUD dengan orang tua dan masyarakat dapat digali lebih mendalam serta dapat mewujudkan implementasinya di lapangan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PERAN ORANGTUA PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
        Masa depan anak sesungguhnya ada ditangan kedua orang tuanya,
bila orang tua senantiasa memperhatikan perkembangan buah hatinya niscaya masa depan anaknya akan jauh lebih baik. Pendidikan anak usia dini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan memperlihatkan aktivitas di rumah. Pendidikan usia dini merupakan masa terpenting dan mendasar dalam kehidupan manusia yang memegang kendali dalam perkembangan kehidupannya.
        Anak lahir dalam pemeliharaan orang tua dan dibesarkan dalam keluarga. Orang tua dalam pendidikan islam memiliki kewajiban dan tanpa ada yang memerintah langsung memikul tugas sebagai pendidik, baik yang bersifat pemelihara, pengasuh, pembimbing maupun sebagai guru dan mereka sebagai pemimpin bagi anak-anaknya. Perjalanan seorang anak menuju kedewasaan dipengaruhi oleh berbagai factor diantaranya factor alam dan lingkungan, oleh karena itu perlu adanya peran orang tua serta pihak lain seperti guru dan masyarakat untuk membantu proses tersebut agar kedewasaan seorang anak tidak terhambat.
        Orang tua dan guru juga perlu memahami arti kreativitas dan bagaimana penampilannya jika dikaitkan dengan tingkat perkembangan anak dan mereka perlu memiliki keterampilan untuk membantu dan mendorong anak mengungkapkan daya kreatifnya, menyadari pentingnya kreativitas bagi anak dan bagi pendidik sendiri mampu menemukan kendali kreativitas pada anak dan membina mereka mengembangkan kesediaan dan keberanian untuk mewujudkan kreativitas mereka.
Perkembangan merupakan rangkaian proses perubahan kearah yang lebih maju dan lebih dewasa. Mengembangkan kreativitas sejak dini itu sangat penting bagi perkembangan anak karena ada beberapa perilaku yang mencerminkan perilaku kreativitas alamiah anak pra sekolah menjadi nyata seperti menjajaki lingkungannya, dan rasa ingin tahu mereka sangat besar. Oleh karena itu orang tua, guru dan masyarakat bertanggung jawab atas pemeliharaan, perhatian dan penyediaan lingkungan fisik dan social yang kondusif bagi perkembangan anak-anak.



B.     PERAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
        Sungguh suatu hal yang ironis, betapa technologi modern ternyata belum bisa memberi manfaat atau efek yang positif pada anak anak. Seperti yang kita ketahui bahwa perkembangan dan pertumbuhan anak zaman sekarang ini lebih banyak di pengaruhi oleh Televisi, dimana tak ada filter yang bisa menyaring secara efektif hal hal yang baik untuk anak. Kita juga bisa membedakan bahwa di lingkungan pedesaan dengan lingkungan perkotaan terdapat perbedaan yang sangat signifikan dalam hal pendidikan. Dimana di Perkotaan Anak anak usia dini sudah banyak yang tersentuh oleh pendidikan untuk anak usia dini. Melihat dari perkembangan anak yang memerlukan perhatian khusus oleh orang tua, Pendidikan Anak Usia Dini perlu tersosialisasikan kepada masyarakat, agar visi Paud dapat tercapai sebelum anak tersebut masuk kesekolah dasar.
        Masyarakat yang peduli dengan anak-anak akan sangat antusias sekali untuk bahu membahu dalam mengembangkan kualitas PAUD. Meski PAUD yang didirikan masyarat masih berada dalam jalur nonformal namun sudah menggunakan kurikulum dengan menu generik.
        Ada beberapa strategi masyarakat dalam mendirikan PAUD:
1.      Memegang prinsip dari oleh dan untuk masyarakat, sehingga masyarakat dapat dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan , merancang program , melaksakannya dan mengawasinya.
2.      Fleksibel yakni baik tempat waktu , maupun saran ayang digunakan. Yang paling penting aman dan tidak mengganggu waktu tudur siang Anak.
3.      Tidak harus dimulai dari nol, bisa dengan mengembangkan fasilitas yang sudah ada seperti, Posyandu, BKB, SPS, Majelis Ta’lim.
4.      Yang Mudah , Murah, tetapi harus bermutu. Yaitu PAUD nonformal bukan berart gedung yang megah dan berfasilitas lengkap tetapi menjadi satu tolak ukur dimana anak merasa diperhatikan, diberi kesempatan, diberikan kebebasab mengungkapkan kemampuannya, didengar isi hatinya tanpa ada paksaan/ancaman/tekanan terhadap dirinya serta mendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan Usianya.
        Dalam penyelenggaraanya sendiri PAUD nonformal diharuskan tidak kaku, maksudnya jika sudah ada keinginan dari masyarakat untuk mendirikan PAUD segeralah untuk memulainya meskipun belum mendapatkan ijin. Untuk sementara waktu sebelum dibuat kurikulum, maka bisa menggunakan kurikulum dengan Menu generik. Sambil berjalan, penilik PLS/PAUD memantau , membina, dan mengarahkan hingga mendapatkan ijin operasional. Sehingga dalam jangka waktu minimal 6 bulan setelah program berjalan, PAUD sudah mendapatkan ijin dari Dinas Pendidikan.
        Syarat Mendapatkan ijin mendirikan PAUD (minimal):
1.      Ada Yang bertanggung jawab sebagai penyelenggara.
2.      Ada anak yang akan dilayani.
3.      Ada tenaga Pendidik.
4.      Mempunyai tempat untuk menjalankan program pendidikan.
5.      Ada Dana untuk kelangsungan PAUD.
6.      Mempunyai program pembelajaran yang jelas.
7.      Memiliki kurikulum yang jelas.
8.      Didukung oleh masyarakat sekitar. Untuk Taman Pengasuhan Anak ditambah syarta tambahan yakni adanya pengasuh atau perawat yang bertanggung jawab dalam merawat anak termasuk kesehatan dan gizi.


C.    HUBUNGAN LEMBAGA PAUD DENGAN ORANG TUA DAN MASYARAKAT
1.      Hubungan lembaga PAUD dengan Orang tua dalam konteks umum
        Berkomunikasi dengan orangtua merupakan salah satu tanggungjawab pendidik. Demikian juga dengan orangtua, mereka perlu menjalin komunikasi dengan pendidik. Komunikasi timbal balik ini akan sangat efektif untuk memberikan layanan yang berkualitas kepada anak usia dini.  Orangtua dan pendidik saling berbagi informasi baik mengenai program lembaga maupun tentang individual anak.  Orang tua dapat mengetahui program-program yang akan dan sedang dilaksanakan oleh lembaga. Di samping itu juga dapat memberi saran serta kritikan tentang pelaksanaan program – program  dan saling bekerja sama demi kemajuan lembaga tersebut.  Pendidik dapat menginformasikan dan berdiskusi tentang perkembangan anak selama mengikuti kegiatan di lembaga tersebut dan juga menggali informasi dari orangtua tentang berbagai hal mengenai anak tersebut.
        Kegiatan berkomunikasi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Baik secara formal maupun informal, baik secara tertulis maupun lisan. Akan tetapi bukan hal yang mudah baik bagi pendidik maupun orangtua untuk menjalin komunikasi dua arah secara efektif. Ada banyak kendala baik dari pendidik maupun orangtua.
        Panduan ini memuat tentang strategi berkomunikasi antara pendidik dan orangtua melalui  papan informasi, buku komunikasi, buku profil lembaga, surat, home visit, dan pertemuan pendidik-orangtua.
a.      Tujuan keterlibatan orangtua dalam komunikasi dua arah ini yaitu:
1)      Menyampaikan informasi tentang kebijakan dan program kegiatan yang ada di lembaga.
2)      Menjalin kerjasama antara lembaga dan orangtua dalam melaksanakan      program lembaga
3)      Berdiskusi tentang perkembangan anak dan permasalahan yang dihadapi oleh masing – masing anak.
4)      Berbagi pengalaman dan gagasan dalam membelajarkan anak.
5)      Bertukar informasi mengenai perkembangan anak yang ada di lembaga dan di rumah.
6)      Memperoleh informasi yang membantu pemahaman mengenai berbagai aspek tentang kemajuan tumbuh kembang anak.
b.      Strategi berkomunikasi antara pendidik(pengelola Lembaga PAUD) dan orangtua melalui:
1)       Papan Informasi
        Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menjalin komunikasi dua arah antara pendidik dan orang tua adalah pengadaan papan informasi. Papan informasi adalah papan yang ditempel di dinding atau dipasang di tempat strategis sehingga mudah diakses dan dibaca oleh orang tua maupun pendidik. Papan informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menempel berbagai pesan dari pendidik yang dimaksudkan untuk diketahui orang tua peserta didik maupun pesan dari orang tua peserta didik untuk diketahui oleh pendidik.
a)       Pesan-pesan yang dapat disampaikan pada papan informasi antara lain:
(1)   Pengumuman tentang jadwal pertemuan
        Jadwal pertemuan orang tua yang telah disepakati bersama dalam musyawarah antara orang tua dan pendidik dapat ditempel pada papan informasi sehingga mengingatkan kembali orang tua tentang jadwal yang telah disepakati
(2)   Selebaran berisi informasi tentang perkembagan dan pertumbuhan peserta didik.
(3)   hasil karya peserta didik untuk diapresiasi oleh orang tua
(4)   foto-foto kegiatan, baik kegiatan peserta didik, kegiatan pendidik maupun kegiatan orang tua
(5)   foto-foto peserta didik
(6)   jadwal pembelajaran peserta didik
(7)   instruksi untuk volunteer
(8)   hal-hal yang relevan dengan rencana kegiatan lembaga
        Informasi melalui papan informasi dapat merupakan pengulangan atau penguatan dari informasi yang dikirimkan melalui surat atau catatan-catatan yang ditulis melalui buku penghubung
b)     Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk membuat papan informasi:
(1)   Menyiapkan lokasi yang strategis dan mudah diakses oleh orang tua dan pendidik
(2)   Menyiapkan papan informasi.
(3)   Menyiapkan bahan/materi.
(4)   Memasang dan menempel materi yang disiapkan
(5)   Menghias papan informasi
c)      Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan papan informasi:
(1)   Papan informasi, dapat berupa papan dari kayu, papan stereofoam, papan dinding, papan tulis dan papan kaca
(2)   Bahan informasi antara lain berupa tulisan pengumuman, informasi ilmiah tentang perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini, informasi-informasi umum tentang keterlibatan orang tua, gambar, foto-foto kegiatan, hasil karya anak, jadual kegiatan, jadual pertemuan orang tua-pendidik, rencana kegiatan, tulisan/ringkasan hasil pertemuan orang tua-pendidik
(3)   Lem untuk menempel dan menghias informasi dan gambar yang akan disampaikan berupa tulisan sehingga lebih menarik minat untuk membacanya.
(4)   Isolasi dan dobel isolasi untuk menempel gambar-gambar maupun informasi yang akan disampaikan
(5)   Kertas-kertas untuk menghias papan display, dapat berupa kertas asturo berwarna, kertas marmer dan kertas krep
(6)   Pines/paku payung dan push pin untuk menempelkan bahan/materi yang akan disampaika.
        Materi yang disampaikan pada papan informasi hendaknya secara rutin diperbaharui sehingga selalu berisi informasi-informasi yang relevan dengan perkembangan kegiatan anak maupun kegiatan orang tua. Pembaharuan materi pada papan informasi dapat dilakukan setiap dua minggu, setiap bulan atau sesuai kebutuhan.  Pembaharuan materi ini sangat penting untuk menarik perhatian  karena jika papan dipenuhi dengan informasi yang sudah lama atau terlihat acak-acakan, pihak orangtua tidak akan melihatnya.
        Pelaksanaan kegiatan ini dapat melibatkan orangtua. Orangtua yang tertarik menjadi volunteer dapat diikutsertakan untuk membantu memasang informasi dan menghiasnya. Di samping itu orangtua juga dapat dilibatkan untuk menyumbang hasil karyanya.
d)     Kiat penggunaan papan informasi
(1)   Rubahlah paling sedikit beberapa selebaran secara berkala
(2)   Ingatlah bahwa setiap orang senang melihat photo dan nama mereka serta anak-anaknya
(3)   Pampanglah hasil karya anak
(4)   Minta orang tua untuk berkontribusi pada pemasangan maupun pengisian materi di papan informasi
(5)   Tempelkan ucapan terimakasih bagi orang tua yang telah membantu suatu kegiatan
(6)   Kerjakan papan informasi secara bersama-sama, setidaknya dua orang. Hal ini untuk memudahkan pekerjaan dan memberi kegembiraan.
2)       Buku Profil Lembaga
        Buku Profil lembaga merupakan salah satu media komunikasi yang penting dalam membangun keterlibatan dan peran serta orang tua dalam program pendidikan anak usia dini. Buku Profil lembaga adalah buku yang memuat informasi-informasi umum tentang profil lembaga, meliputi:
a)       visi dan misi lembaga,  Visi adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suatu lembaga. Misi memuat langkah-langkah yang hendak dilakukan untuk mewujudkan tujuan/visi yang telah ditetapkan.
b)      program pembelajaran,
c)      jadwal kegiatan,
d)      daftar kelas,
e)      daftar peserta didik,   Berisi informasi tentang jumlah peserta didik, nama-nama peserta didik, usia/tempat tanggal lahir.
f)       daftar pendidik dan tenaga kependidikan, Berisi informasi tentang nama-nama pendidik dan tenaga kependidikan, pendidikan, pelatihan/seminar yang pernah diikuti oleh pendidik, pengalaman dalam bidang pendidikan anak usia dini dan infromasi-informasi lain yang mendukung terkait dengan tenaga pendidik dan kependidikan
g)      fasilitas yang dimiliki,
h)      tata tertib dan informasi lain yang bermanfaat untuk orang tua, Beirisi aturan-aturan yang harus ditaati oleh pihak-pihak yang terkait dengan lembaga, meliputi tata tertib untuk pendidik, tata tertib untuk anak dan tata tertib untuk orang tua.
Contoh Tata Tertib Orang Tua
a)      Berpakaian bebas dan sopan ketika mengantar anak
b)      Tidak berada di dalam ruangan ketika proses pembelajaran berlangsung
c)      Mengantar dan menunggu pada tempat yang telah disediakan
d)     Aktif menjalin komunikasi dengan pendidik tentang perkembangan anak, melalui buku penghubung
e)      Melengkapi administrasi sesuai waktu yang telah ditentukan
f)       Mengikuti setiap kegiatan yang direncanakan lembaga bersama orang tua
g)      Tidak merokok di dalam ruangan pembelajaran
h)      Mengantar dan menjemput anak tepat waktu
3)      Buku Komunikasi/Penghubung
        Buku komunikasi  adalah suatu media berbentuk  buku yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orangtua.Buku ini memuat catatan singkat yang menggambarkan keberhasilan yang spesifik, keterampilan atau perilaku baru serta saran-saran untuk kegiatan dirumah. Buku ini berfungsi untuk menjembatani komunikasi antara guru dan orang tua peserta didik, sehingga harus dapat diisi oleh kedua belah pihak. Pihak orang tua didorong untuk mengirimkan catatan-catatan penting kepada pendidik dan sebaliknya pendidik juga harus aktif mengirimkan catatan-catatan penting tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
         Pertukaran catatan dan tanggapan ini penting agar masing-masing pihak yaitu pendidik dan orang tua saling bekerjasama untuk mendorong kemajuan anak. Catatan-catatan dalam buku komunikasi dapat digunakan sebagai dasar bagi orang tua maupun pendidik untuk menentukan materi atau program yang sesuai dengan kebutuhan anak. Tindak lanjut dari catatan-catatan dalam buku komunikasi adalah berupa pertemuan langsung antara pendidik dan orang tua.

4)      Surat
        Surat adalah cara lain yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan orangtua. Komunikasi melalui surat dapat dilakukan secara rutin yaitu mingguan atau bulanan sehingga orangtua menerima informasi secara konsisten atau sesuai dengan kebutuhan. Topik surat bervariasi sesuai dengan kebutuhan, meliputi:
a)      Informasi tentang pertemuan orangtua-pendidik
(1)   Informasi  tentang  kegiatan lembaga
(2)   Permohonan bantuan atau bahan-bahan untuk suatu kegiatan
(3)   Permohonan bantuan untuk menjadi volunteer dalam suatu kegiatan
(4)   Ucapan terima kasih atas bantuannya sebagai volunteer
(5)   Laporan tentang suatu kegiatan yang sudah berlangsung
(6)   Saran-saran untuk keterampilan pengasuhan di rumah
(7)   dan sebagainya
5)      Home Visit
        Home visit merupakan kegiatan yang dilakukan pendidik dengan mengunjungi rumah orangtua peserta didik. Home visit ini memiliki makna penting untuk membangun hubungan yang solid antara pendidik dan orangtua. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada awal dan akhir tahun ajaran. Namun demikian home visit juga dapat dilakukan ketika kegiatan pembelajaran sedang berlangsung ditahun tersebut.
a)      Tujuan home visit sebelum tahun ajaran baru atau sebelum pembelajaran dimulai, yaitu:pendidik dan calon peserta didik saling mengenal satu sama lain secara individual; pertama, Pendidik dan orangtua dapat sharing tentang program lembaga dan mendiskusikan harapan untuk anak mereka. Kedua, mendiskusikan tentang kebutuhan khusus dan minat anak, masalah kesehatan yang perlu diketahui pendidik. Ketiga, mendiskusikan juga tentang bagaimana orangtua dapat terlibat dalam program lembaga.
b)      Tujuan home visit pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung, yaitu:
                                                                                 (1)      untuk berbagi informasi tentang perkembangan/kemajuan anak serta permasalahan yang dihadapi.
                                                                                 (2)      Mengetahui kondisi anak jika selama beberapa hari tidak masuk sekolah.
                                                                                 (3)      Mendorong orangtua untuk terlibat dalam kegiatan di lembaga.
                                                                                 (4)      Mendorong orangtua memberikan pengasuhan yang tepat untuk anak.
c)      Home visit akan efektif jika pendidik merencanakan dan mempersiapkan secara baik. Berikut ini saran untuk melaksanakan home visit.
                                                                                 (1)      Persiapan
(a)    Buat jadual kunjungan yang tepat  dan kirimkan jadual tersebut ke orangtua agar orangtua mengetahui kapan kunjungan dan rentang waktunya.
(b)   Siapkan sarana, seperti kamera, nametag, album foto yang memuat aktivitas anak tahun sebelumnya.
(c)    Siapkan sesuatu yang dapat dipakai untuk membuka percakapan(berbagi informasi tentang anak dan yang dapat digunakan untuk kesempatan observasi). misalnya buku cerita, atau alat permainan yang dapat digunakan anak untuk bermain sementara pendidik berbicara dengan orangtua.
(d)   Bawa form informasi untuk orangtua yang memuat: nama dan nomor telepon, kalender sekolah (hari libur dan even spesial), info tentang makanan kecil jika orangtua akan menyediakannya, dan daftar aturan untuk merayakan ulangtahun dan membawa sesuatu untuk dibagi di sekolah.
                                                                                 (2)      Pelaksanaan
(a)    Datang tepat waktu sesuai kesepakatan.
(b)   Sampaikan tujuan kunjungan dan berapa lama akan dilakukan.
(c)    mulailah selalu dengan mendiskusikan hal-hal yang positif, meskipun tujuan kunjungan mungkin untuk mendiskusikan suatu masalah.
(d)   Jangan mendominasi pembicaraan. Berikan waktu bagi keluarga untuk pendapat mereka, anak mereka serta hal-hal lain yang menjadi perhatian dan minat mereka.
(e)    Jangan membicarakan anak didepannya kecuali memberikan pujian yang tulus dan umpan balik yang positif.
(f)    Jadilah tamu yang menyenangkan. Jika orangtua menawarkan sesuatu untuk dimakan atau diminum, terima dengan sopan.
(g)   Jangan membuat penilaian tentang lingkungan rumah meskipun lingkungan fisik rumah tidak sesuai bayangan sebuah rumah yang tepat untuk perkembangan dan pertumbuhan anak.
        Jika pendidik tidak sanggup untuk mengunjungi dua atau tiga orangtua di rumah, dia dapat mengundang mereka dalam pertemuan khusus di lembaga. Beberapa orangtua mungkin lebih suka diundang dalam pertemuan dalam kelompok kecil. Jika orangtua tidak dapat datang ke lembaga dan pendidik tidak dapat berkunjung ke rumah, maka pendidik dapat mengundang mereka untuk bertemu di tempat lain sesuai kesepakatan. Pertemuan di tempat yang netral mungkin membantu orangtua merasa nyaman. Jika tidak mungkin, pendidik dapat mencoba kontak melalui telepon, atau surat
6)       Pertemuan Orangtua dengan Pendidik(pengelola Lembaga)
Pertemuan pendidik dan orangtua merupakan salah satu kegiatan yang dapat mendorong komunikasi antara mereka. Kegiatan ini dapat dijadualkan secara rutin sesuai kebutuhan lembaga.
a)      Tujuan pertemuan orangtua-pendidik
Pertemuan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa tujuan sebagai berikut.
(1)   penjelasan tentang program lembaga
(2)   diskusi tentang perkembangan anak
(3)   diskusi tentang cara mendidik anak, nutrisi, kesehatan, dan topik lain yang relevan dengan kebutuhan untuk pendidikan anak usia dini.
Masing-masing tujuan sebaiknya dilakukan dalam pertemuan yang berbeda sehingga kegiatan tersebut fokus dan waktu pertemuan tidak terlalu lama.
b)      Strategi pelaksanaan
(1)   Persiapan
(a)    Identifikasi waktu luang orangtua. Hal ini dimaksudkan agar ketika pertemuan diadakan, orangtua dapat menghadirinya. Kirimkan form identifikasi untuk diisi orangtua yang memuat identitas serta kemungkinan waktu luang yang dimilikinya.
(b)   Menetapkan tujuan pertemuan berdasarkan identifikasi kebutuhan.
(c)    Menetapkan waktu pertemuan. Penetapan tujuan pertemuan dimaksudkan agar kegiatan dapat fokus sehingga dapat memanfaatkan waktu secara efektif. Sedangkan waktu pertemuan ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi waktu luang yang dimiliki orangtua.
(d)    Buat undangan untuk orangtua maksimal satu minggu sebelumnya dan konfirmasi kehadiran mereka dalam pertemuan sehari sebelumnya.
(e)    Rencanakan juga kegiatan pengasuhan untuk anak jika orangtua membawa anak-anak mereka.
(f)    Jika kegiatan membutuhkan narasumber selain pendidik, maka perlu membuat undangan untuk narasumber dan mengkonfirmasi kesanggupannya.
(g)   Mengirimkan undangan ke orangtua
(h)    menyiapkan bahan/materi pertemuan
(i)      menyiapkan konsumsi dan dokumentasi
(2)   Pelaksanaan
Berikut ini beberapa saran yang dapat digunakan untuk melaksanakan pertemuan orangtua-pendidik.
(a)    setting ruangan pertemuan
(b)   Mulai pertemuan tepat waktu
(c)    Pelaksanaan pertemuan dengan susunan acara sebagai berikut:
·         Pembukaan
·         Perkenalan
·         Menyampaikan tujuan pertemuan
·         Kegiatan inti :
-          penjelasan program lembaga/perkembangan anak/paparan tentang topik tertentu yang berkaitan dengan pendidikan dan pengasuhan anak.
-          Diskusi/tanya jawab
-          Penutup
(d)   ulangi tujuan pertemuan
(e)    buat kesimpulan hasil pertemuan
·         Diskusikan hasil pertemuan dengan sesama pendidik dan buat rencana untuk menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut.
·         Kirimkan surat  ucapan terima kasih kepada orangtua atas kehadirannya dalam pertemuan.
7)      Mempererat komunikasi pendidik-orang tua secara informal
        Komunikasi yang sudah terbangun antara pendidik-orang tua perlu senantiasa dipererat. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk tujuan tersebut. Strategi komunikasi yang sudah disebutkan di atas adalah upaya membangun komunikasi secara formal dan terencana secara sistematis. Berikut ini adalah upaya mempererat komunikasi pendidik-orang tua secara informal dan tidak memerlukan perencanaan khusus.
a)      Waktu orang tua mengantar dan menjemput anak
b)      Menggunakan telephon
c)      Bertemu di luar lingkungan lembaga PAUD
d)     Melakukan kegiatan parenting
(1)   Manfaat parenting
        Kegiatan parenting akan menjadi suatu wadah yang dapat memberikan keuntungan pada semua pihak, baik kepada orang tua, kelompok bermain, maupun pemerintah. Ada beberapa manfaat dalam pelaksanaan parenting adalah : pertama, terjalinnya mitra kerja lintas sektor, misalnya dari pengusaha-pengusaha yang berkaitan dengan produk yang berkaitan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak, instansi pemerintah, penerbit buku, dan lain-lain, Kedua, terpenuhinya kebutuhan hak-hak anak. Ketiga, berkembangnya rasa percaya diri orangtua dalam mendidik anak, Keempat terjalinnya hubungan yang harmonis pada masing-masing anggota keluarga sesuai dengan tugasnya masing-masing,  Kelima, terciptanya hubungan antar keluarga di lingkungan masyarakat sekitar lembaga pendidikan, dan    Keenam, terjalinnya mitra kerja antar sesama anggota parenting.
(2)   Langkah-langkah kegiatan parenting
        Dalam melaksanakan parenting langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh kelompok bermain adalah : pertama, adanya  komitmen bersama antara pengelola dan orangtua pada saat mendaftarkan putra-putrinya di kelompok bermain,  kedua, menyiapkan penanggungjawab kegiatan parenting atau kepengurusan pada kelompok bermain,  ketiga, mengidentifikasi kebutuhan informasi (isu-isu penting seputar pendidikan dan tumbuh kembang anak) yang ingin diketahui oleh orangtua,  keempat,  menyusun program-program kegiatan yang akan dilakukan untuk kegiatan parenting, dan  kelima, menyusun jadwal kegiatan sekaligus menentukan narasumber atau sponsor, misalnya, kegiatan dapat dilakukan seminggu sekali, sebulan sekali, atau memanfaatkan hari-hari libur nasional, tergantung kebutuhan.
(3)   Bentuk-bentuk kegiatan parenting
        Kegiatan parenting akan lebih bermakna jika kelompok bermain dapat menyusun suatu kegiatan parenting sehingga “kumpul-kumpul orangtua” mempunyai makna. Bentuk bentuk kegiatan parenting yang dapat dilakukan  antara lain:
(a)   Think-thank, yaitu sumbang saran yaitu mengeluarkan pendapat dan diskusi tentang pembelajaran yang paling tepat bagi anak usia dini misalnya pembelajaran tematik,  setiap anggota dapat menyampaikan gagasan-gagasan atau permasalahan-permasalahan yang ada sekaligus melakukan pembahasannya.
(b)   Arisan Bicara, yaitu setiap anggota, secara undian bergilir menjadi pembicara untuk menyampaikan gagasan sesuai topik yang telah ditentukan.
(c)    Seminar, mengundang narasumber dan sponsor
(d)   Praktek ketrampilan, misalnya membuat alat permainan edukatif, memasak makanan bergizi untuk anak, dan sebagainya.
(e)    Outbond, yakni kegiatan di luar ruangan yang dilakukan secara bersama-sama oleh semua anggota keluarga, yang disisipkan kegiatan diskusi atau praktek permainan-permainan yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga secara bersama-sama.
(f)     Kunjungan Lapangan, yaitu kegiatan kunjungan ke tempat–tempat khusus yang bersifat mendidik, misalnya ke museum, perpustakaan umum, panti asuhan, panti jompo, ke kebun atau pertanian, dan sebagainya.[1]           
2.      Hubungan Lembaga PAUD dengan masyarakat dalam konteks umum
        Pada umumnya sekolah merupakan tempat anak didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman, pengetahuan, keterampilan sehingga anak didik akan mendapat bekal hidup kelak bekerja di lingkungan masyarakat luas. Anak usia dini pada hakikatnya adalah manusia yang memerlukan bimbingan, secara kodrati seorang anak sangat perlu pendidikan dan bimbingan dari orang dewasa.
        Masyarakat sebagai lingkungan terbesar dalam kehidupan, berguna untuk melatih jiwa anak dalam bersosialisasi terhadap masyarakat, seperti bermain dan bergaul. Yang harus diperhatikan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak misalnya anak yang terdidik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa akan cenderung menjadi manusia yang religius pula.
        Lingkungan dan keluarga sebagai pendidikan kedua setelah sekolah, orang tua memiliki peran yang cukup strategis dalam membantu guru memaksimalkan proses pembelajaran bagi anak-anak usia prasekolah. Dalam menyikapi berbagai perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat dalam masyarakat, maka orang tua harus memiliki pegangan edukatif dalam menciptakan suasana pembelajaran.
        Tugas pokok orang tua dan masyarakat yang dapat diberdayakan guru dalam meningkatkan perannya adalah :
a.       Memberi nama yang tepat. Pemberian nama akan memberi identitas kepada anak. Dengan berbagai kemajuan dan perubahan sosial nama anak semakin baik dan beragam, namun identitas keklaminan justru sangat penting.
b.       Kebiasaan memberikan pakaian yang sesuai. Berikan pakaian yang sesuai dengan anak agar nantinya Orangtua tidak bingung dengan kebiasaan anak yang kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan akibat dari seringnya memberikan pakaian yang tidak sesuai.
c.       Pemilihan warna yang tepat, sebab warna dan motif juga sangat berpengaruh terhadap identitas kekelaminan.
d.      Pengembangan hobi yang menunjang. Kecenderungan biasanya terbaca sejak kecil sehingga pengembangan hobi yang sesuai akan memberikan bekal yang baik untuk perkembangan anak.
e.       Memberikan batasan-batasan, aturan-aturan dengan bimbingan yang tepat
f.       Memperhatikan tugas dalam rumah tangga secara tidak langsung anak akan memperhatikan dan mengerti akan tugas dan kewajibannya.
3.      Hubungan lembaga PAUD dengan Orang tua dalam pandangan Kathy Lee
a.      How to give prospective parents tours of the center, yaitu mengenai bagaimana memberikan pelayanan untuk berkeliling(tour) mengenalkan sekolah kepada calon orang tua peserta didik. Tujuan dari pelayanan ini adalah untuk membantu mendidik para calon orangtua tebtang kualitas lembaga pendidikan anak dan menginformasikan kepada mereka program sekolah. Hal ini bisa dilakukan dengan :
1)      Dengan mempunyai banyak anggota staff yang telah ditraining untuk memberikan pelayanan tour
2)      Jadwal tour untuk calon orang tua, mempunyai waktu khusus untuk tour
3)      Melatih para staff untuk menyapa para calon orangtua murid
4)      Bertanya pada calon orangtua untuk mengomplitkan kartu kunjungan
5)      Menyediakan pendidikan dan informasi tour sebagai tantangan untuk tour yang meyakinkan
b.      How to handle offering references to parent, yaitu tentang bagaimana menawarkan referensi kepada orang tua. Hal ini dimaksudkan untuk menawarkan pada orang tua agar dapat memberikan referensi mereka tentang lembaga pendidikan kepada calon orangtua murid. Biasanya dilakukan dengan dua cara, pertama, orangtua yang ingin menuliskan surat referensi yang dapat ditunjukan pengelola kepada calon orangtua murid. Kedua, orang tua yang ingin menawarkan waktu mereka untuk calon orangtua murid dengan memasukan nama mereka dan nomor telepon mereka ke dalam daftar referesi.
Dan yang perlu diingat adalah:
1)      Minta orangtua yang berkeinginan untuk menulis referensi di lembaga
2)      Minta orang tua yang berkeinginan untuk meletakan nama dan nomor telpon mereka pada daftar referensi
3)      Menyusun surat referensi dan meletakannya pada notebook
4)      Menyusun nomor telpon
c.       How to handle enrollment,  yaitu mengenai bagaimana cara mengatasi hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran.
1)      Dorong orangtua untuk mengunjungi/ melihat program dengan anak mereka juga untuk mengambil formulir pendaftaran.
2)      Jadwalkan kunjungan untuk anak-anak baru.
3)      Kumpulkan hal-hal yang diperlukan untuk melengkapi formulir pendaftaran.
4)      Sambut kedatangan keluarga pada hari pertama sekolah.
5)      Ambil foto anak-anak yang sedang bermain di hari pertama sekolah dan tawarkan kepada orangtua untuk buku memori mereka.
6)      Tanyakan pada orangtua dari kelas anak-anak baru untuk ditelpon dan diminta datang ke lembaga pendidikan.
d.      How to conduct parent orientation, adalah bagaimana mengkondisikan pandangan orangtua, melalui:
1)      ambil waktu untuk memberikan pandangan baru pada orangtua.
2)      Libatkan staff dalam pandangan pada musim kembali ke sekolah.
e.       How to help parent get to know staff, yaitu mengenai bagaimana membantu orangtua untuk mengenali para staff, melalui:
1)      Minta kepada anggota staff untuk melenngkapi kuisioner.
2)      Tulis paragraph pendek tentang masing-masing anggota staff.
3)      Ambil foto-foto para staff.
4)      Letakkan foto dan paragraf pendek itu dalam sebuah bingkai.
5)      Gantungkan diluar ruangan kelas yang tepat.
6)      Undang guru-guru untuk berkontribusi membuat artikel untuk surat kabar bulanan.
7)      Nikmati mempunyai seseorang yang membantu kita dengan surat kabar.
f.       How to encourage parent involvement, yaitu bagaimana mendorong orangtua untuk terlibat melalui:
1)      Tanyakan pada diri kita, mengapa kita ingin orangtua terlibat.
2)      Baca dan coba beberapa tips.
3)      Berterimakasih kepada orangtua atas keterlibatan mereka.
g.      How to create a sense of community, yaitu bagaimana menumbuhkan rasa berkomunitas.
1)      Kenali bahwa kita adalah lebih dari sekedar lembaga PAUD.
2)      Sediakan kesempatan untuk pengasuhan keluarga.
3)      Survey orangtua untuk ide-ide baru.
h.      How to deal with the  overwhelmed parent, yaitu bagaimana menghadapi orangtua yang diliputi kelelahan dan situasi yang stress.
1)      Banyak orangtua yang overwhelmed dengan kehidupan sehari-hari.
2)      Undang orangtua untuk minum kopi dan berbicara dari hati ke hati.
3)      Tawarkan bantuan atau sumber yang kita miliki.
4)      Dengarkan dan kemudian beri dorongan serta support rencana mereka.
i.        How to provide resource for parents, yaitu bagaimana menyediakan sumber-sumber bagi orangtua.
1)      Coba untuk mengenali pokok permasalahan sebelum mereka datang.
2)      Buat pertemuan orangtua yang fokus pada umur spesifik untuk mendiskusikan tingkatan selanjutnya pada perkembangan. Bekali sumber tambahan seperti artikel atau website.
3)      Simpan sebuah file dari artikel pada anak yang berhubungan dengan subjek.
4)      Miliki perpustakaan buku-buku dan video yang memungkinkan dipakai orangtua.
j.        How to accommodate (or not) special request from parents, yaitu bagaimana menyesuaikan diri/ tidak dengan permintaan khusus adri orantua.
1)      Dengarkan orangtua.
2)      Evaluasi komentar mereka.
3)      Buat keputusan berdasarkan pada ketertariakan yang paling baik dari anak-anak dan lembaga.
k.      How to conduct effective parent conferences, yaitu bagaimna mengkondisikan konferensi orangtua yang efektif.
1)      Buat rencana sebelum bertemu dengan orangtua.
2)      Guru-guru juga harus hadir.
3)      Buat sebuah lingkungan yang mengundang.
4)      Coba untuk menghabiskan 30 sampai 40 menit dengan masing-masing keluarga.
5)      Mulai dan akhiri konferensi dengan kata-kata positif.
6)      Kenali berbagai permasalahan yang negative yang dimilki orangtua.
7)      Izinkan orangtua untuk berkesempatan mengenali permasalahan.
8)      Jika perlu buat rencana untuk anak.
9)      Sediakan contoh hasil karya dan foto-foto untuk dibawa pulang oleh orangtua.
l.        What to do when parents get angry, yaitu apa yang dilakukan apabila orangtua marah.
1)      Perhatikan kekhawatiran orangtua dengan serius.
2)      Bekerja dengan staff dan buat rencana untuk mengenali kecemasan mereka.
3)      Simpan informasi dari orangtua untuk kemajuan orangtua.
4)      Ingat bahwa hal-hal seperti ini akan berlalu.
m.    How to handle late pick-ups, yaitu bagaimana mengatasi orangtua yang telat menjemput anaknya.
1)      Periksa dan tinjau kembali kebijakan penjemputan jika terlambat, bila perlu.
2)      Jalankan kebijakan kita dengan konsisten.


n.      How to handle to late drop-offs, yaitu bagaiaman mengatasi keterlambatan mengantar.
1)      Bicara dengan orangtua untuk mengethui mengapa anak diantar terlambat.
2)      Bicara pada staff dan tanyakan pada mereka untuk mempertimbangkan sudut pandang bagi anak itu.
3)      Fleksibilitas adalah kunci.
o.      How to create memories for parents, yaitu bagaimana membuat kenangan untuk orangtua.
1)       Dorong orangtua untuk memikirkan tentang anak usia dini mereka.
2)      Undang orangtua untuk berpartisipasi dalam program berbagi mengenai kenangan anak usia dini mereka.
3)      Dorong orangtua meluangkan waktu untuk menyediakan kenangan mereka bagi anak-anak mereka untuk diberikan kepada sekolah. [2]

1 komentar: